Sunday, August 3, 2014

Syarat Terwujudnya Hidayah Pada Diri Hamba

Sesungguhnya hidayah tidak akan terwujud pada diri seorang hamba kecuali terkumpul padanya sepuluh tingkatan berikut ini :

Pertama, hidayah ilmu dan penjelasan tentang jalan yang benar, sehingga ia benar-benar mengetahui tentang kebenaran tersebut.

Kedua, Allah Ta'ala memberinya kemampuan untuk mengerjakan kebenaran tersebut. Sebab, sesungguhnya dia tidak mampu melakukannya dengan kekuatannya sendiri.

Ketiga, Allah Ta'ala menjadikannya memiliki keinginan untuk melakukannya

Keempat, Allah Ta'ala menjadikannya dirinya untuk mulai mengerjakannya.

Kelima, Allah Ta'ala meneguhkannya dalam kebenaran, hingga ia senantiasa konsisten dalam melakukannya.

Keenam, Allah Ta'ala jauhkan segala hambatan dan halangan yang merintangi dirinya.

Ketujuh, Allah Ta'ala memberinya hidayah yang lebih khusus lagi ketika ia telah berada di jalan yang lurus tersebut.

Kedelapan, Allah Ta'ala perlihatkan dan pahamkan kepadanya tujuan dari jalan tersebut, sehingga ia benar-benar menyadari tentang jalan yang sedang ia tempuh dengan pandang lurus ke depan dan tidak terhalang dari segala wasilah untuk sampai kepadanya.

Kesembilan, Allah Ta'ala menyadarkan akan kebutuhannya terhadap dan hidayah ini di atas kebutuhan yang lain.

Kesepuluh, Allah Ta'ala perlihatkan kepadanya dua jalan yang telah menyimoang dari jalan hidayah tersebut: jalan orang-orang yang dimurkai, yaitu orang-orang yang sengaja tidak mau mengikuti kebenaran (padahal mereka mengetahuinya) karena kedurhakaan mereka. Dan, jalan orang-orang yang sesat, yaitu orang-orang yang menyimpang dari jalan kebenaran karena kebodohan dan kesesatan mereka.

(Kitab Lebih Dari 60 Mutiara Hikmah Al Fatihah)

Judul Asal : Qathfuts Tsamar al-Mustathaab fii Tafsiiri Faatihatil Kitab

Penulis : Dr Muhammad bin Musa Alu Nashr

Macam-Macam Hidayah

Hidayah itu ada empat macam:

1 Hidayah umum

Yaitu, hidayah yang diterima semua makhluk, sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Ta'ala :

رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَىٰ كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَىٰ

"...yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk." (Thaha 20:50)

Artinya, Allah telah memberikan kepada semua makhlukNya bentuknya masing-masing yang tidak sama dengan yang lainnya. Allah memberikan setiap bagian bentuk dan rupanya tersendiri. Allah memberikan kepada tiap-tiap yang ada di dalam semesta ini bentuk penciptaan yang khusus baginya. Kemudian, Allah Ta'ala memberinya petunjuk untuk melakukan apa-apa yang menjadi tujuan penciptaannya. Inilah hidayah yang diterima oleh hewan-hewan, benda-benda mati, dan segala yang Allah ciptakan untuk kepentingan tertentu.


2 Hidayah penjelasan, petunjuk, dan pemahaman terhadap dua jalan yang berbeda; jalan kebaikan dan keburukan, keselamatan dan kebiasaan.

Hidayah ini tidak serta-merta membuat seseorang mendapat hidayah yang sebenarnya secara sempurna. Karena, hidayah ini hanya sebagai sebab dan syarat, bukan sebagai sesuatu jaminan kepastian. Oleh karena itu, ia tidak menjamin diterimanya suatu hidayah, seperti firma Allah Ta'ala :

وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَىٰ عَلَى الْهُدَىٰ فَأَخَذَتْهُمْ صَاعِقَةُ الْعَذَابِ الْهُونِ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

"Dan adapun kaum Tsamud, maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk..." (Fushshilat 41:17)

Artinya, kami telah menjelaskan kepada mereka, menuntun mereka, dan menunjuki mereka, tetapi mereka tidak mengikuti petunjuk tersebut.

Demikian pula seperti firman Allah Ta'ala :

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

"....Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus." (Asy Syuura 42:52)


3 Hidayah taufiq dan ilham

Inilah hidayah yang membuat seseorang pasti mendapat petunjuk Allah, tidak mungkin tidak, sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Ta'ala :

يُضِلُّ اللَّهُ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي مَن يَشَاءُ 

"Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya." ( Al Muddatstsir 74:31)

Dan firman Allah Ta'ala :

إِن تَحْرِصْ عَلَىٰ هُدَاهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَن يُضِلُّ وَمَا لَهُم مِّن نَّاصِرِينَ

"Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong." ( An Nahl 17:37)

Dan firman Allah Ta'ala :

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ 

"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi..." ( Al Qashash 28:56)

Serta, sabda Nabi صلّى الله عليه وسلّم :

مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

"Siapa yang diberi pertunjuk oleh Allah Ta'ala maka tiada yang dapat menyesatkannya. Dan siapa yang disesatkan maka tiada yang dapat menunjukinya"

HR Abu Dawud (2118), an Nasa-i (1578), Ibnu Majah (1892), dan dinyatakan shahih oleh guru kami, al-Albani رحمه الله dalam Shahih Sunan Abi Dawud (1860), dan lainnya.


4 Hidayah yang menuntut ke Surga dan Neraka

Yaitu, hidayah ketika penduduk Surga dan penduduk Neraka digiring menuju ke tempat masing-masing. Inilah Hidayah ini adalah bentuk hidayah taufik dan ilham yang paling tinggi. Allah Ta'ala berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُم بِإِيمَانِهِمْ تَجْرِي مِن تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan.

(Yunus 10:9)

Penduduk Surga berkata setelah memasukinya:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَٰذَا 

"Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini." (Al A'raaf 7:43)

Adapun tentang penghuni Neraka, Allah Ta'ala berfirman :

احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ، مِن دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْجَحِيمِ

(kepada malaikat diperintahkan): "Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah, selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka." (Ash Shaaffaat 37:22-23)


(Kitab Lebih Dari 60 Mutiara Hikmah Al Fatihah)

Judul Asal : Qathfuts Tsamar al-Mustathaab fii Tafsiiri Faatihatil Kitab

Penulis : Dr Muhammad bin Musa Alu Nashr



Monday, June 24, 2013

Al Qur'an Dan Sunnah

Sesungguhnya Al Qur'an lebih butuh kepada Sunnah dari pada Sunnah terhadap Al Qur'an

(Kitab Sharhus Sunnah Imam Barbahari No 70)

Sunday, June 2, 2013

tashabbuh

Dari Abu Sa‘id Al Khudri, ia berkata: “Rasululah bersabda: ‘Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalianpun akan masuk ke dalamnya.’ Mereka (para sahabat) bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah kaum Yahudi dan Nasrani?’ Sabda beliau: “Siapa lagi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. ” [Al Baqarah 120]

Monday, May 27, 2013

Melihat Allah سبحانه وتعالى

تَرَوْنَ رَبَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةَ كَمَا تَرَوْنَ الْقَمَرَ لاَ تَضَامُوْنَ فِى رُؤْيَتِهِ

"Kamu akan melihat Tuhan kamu (Allah) dihari Kiamat sebagaimana melihat bulan, tidak ada yang dapat menghalangi kamu pada melihat-Nya".

(HR al-Bukhari dalam kitab Sahihnya)

Rububiyah, Uluhiyah Dan Asma Wa Sifah

Tauhid Asma wa Sifah


دنُثْبِتُ هَذِهِ الصِّفَاتِ الَّتِيْ جَاءَ بِهَا الْقُرْآنُ، وَوَرَدَتْ بِهَا السُّنَّةُ، وَنَنْفِيْ التَّشْبِيْهَ عَنْهُ، كَمَا نَفَى عَنْ نَفْسِهِ، قَالَ : (لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ) 

"Kami menetapkan sifat-sifat Allah yang disebutkan di dalam al-Quran dan عليه السلام-Sunnah dan kita juga meniadakan penyerupaan itu dari diri-Nya di dalam firman-Nya "Tidak ada sesuatu yang serupa dengan-Nya" (asy syura 42:11)

(Lihat: Syi'ar A'lam an-Nubala 20/341 Az-Zahabi)


Ar-Rabi' Bin Sulaiman seorang murid kanan Imam asy-Syafie menyeru kepada tauhid al-Asma was-Sifat, beliau berkata :

وَقَدْ رُوِيَ عَنِ الَّبِيْعِ وَغَيْر وَاحِدٍ مِنْ رُؤُوْسِ أَصْحَابِهِ مَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ كَانَ يُمِرُّ بِآيَاتِ الصِّفَاتِ وَأَحَادِيْثٍهَا كَمَا جَاءَتْ مِنْ غَيْرِ تَكْيِيْفٍ وَلاَ تَشْبِيْهٍ وَلاَ تَعْطِيْلٍ وَلاَ تَحْرِيْفٍ عَلَى الطَّرِيْقِ السَّلَفِ

"Dan telah diriwayatkan dari ar-Rabi' salah seorang murid Imam asy-Syafie yang paling kanan dan beberapa sahabat yang senior yang menunjukkan bahawa dia mengikuti ayat-ayat dan hadis-hadis sifat-sifat Allah seperti apa adanya tanpa takyif (tanpa ditanya, dibincang dan dipersoalkan bagaimana sifat tersebut), tanpa tasybih (tanpa diserupakan), tanpa ta'til (tidak diingkari atau dibatalkan), tanpa tahrif (tidak diubah atau ditukar) begitulah cara yang sesuai dengan cara Salaf".

(Lihat: Al-Bidayah wan-Nihayah 10/694. Ibnu Kathir)


Tauhid Rububiyah / Tauhid Uluhiyah

Al-Makrizy (776 - 845) seorang ulama bermazhab asy-Syafie telah menjelaskan tentang tauhid Rububiyah dan tauhid Uluhiyah, beliau berkata :


"Tidak diragukan bahawa kaum musyrikin tidak mengingkari tauhid Rububiyah, bahkan mereka mengakui, bahawa Allah sematalah Yang Mencipta mereka, Yang Mencipta langit dan bumi. Dan Yang mengurus urusan seluruh jagat raya ini. Yang mereka ingkari hanyalah tauhid Uluhiyah. Oleh itu tauhid Rububiyah adalah tauhid yang disepakati oleh seluruh makhluk baik yang beriman atau yang kafir, sedangkan tauhid Uluhiyah ialah di persimpangan jalan yang memisahkan antara kaum mukminin dan kaum musyrikin"

(Lihat: Tajrid at-Tauhid al-Mufid. Hlm. 40-41)

Soalan 3

Mengapakah diharamkan bersolat di masjid yang di dalamnya ada kubur, di masjid yang dibina di atas perkuburan, di masjid yangbtanahnya bersambung dengan tanah perkuburan dan berhampiran dengan kubur?

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله sebagai jawapan kepada soalan di atas:

"Menjadikan suatu tempat sebagai masjid ialah bertujuan untuk mendirikan solat lima waktu dan mengerjakan ibadah-ibadah yang lain di dalamnya. Itulah tujuan sebenar didirikan sesebuah masjid. Jika matlamat pembinaan sesebuah masjid hanyalah untuk didirikan ibadah dan berdoa kepada Allah semata bukan kepada para makhluk, maka diharamkan oleh Rasulullah  صلّى الله عليه وسلّم menjadikan kubur-kubur sebagai masjid, kerana fungsi masjid untuk solat di dalamnya sebagaimana tujuan semua masjid dibina. Namun, jika mendirikan masjid di kuburan maka ia akan mudah membuka ruang untuk mengubah maksud ibadah seseorang itu daripada beribadah kepada Allah akan tercampur dengan beribadah kepada orang di dalam kubur (mayat), iaitu dengan cara berdoa kepada kubur dan berdoa di sisi kubur. Maka Rasulullah  صلّى الله عليه وسلّم melarang menjadikan tempat seperti ini untuk beribadah kepada Allah supaya dapat menutup ruang daripada menyekutukan Allah dengan mayat di dalam kubur".

(Lihat : القاعدة الجليلة Hlm. 22. Ibnu Taimiyah)

Antara sebab ditegah menjadikan kubur sebagai masjid atau masjid dijadikan kubur (tempat mengkebumikan mayat) ialah menutup ruang dari memuliakan dan memuja mayat dengan cara yang terkeluar dari batas yang  dibolehkan oleh syarak, sebagaimana perbuatan orang-orang Yahudi. Perkara ini telah diterangkan juga oleh al-Allamah Ibn Al-Malik رحمه الله dari kalangan ulama Hanafiyah:

"Adapun diharamkan mendirikan masjid di kuburan ialah kerana bersolat di masjid yang ada kubur sama seperti mengikuti sunnah sari sunnah-sunnah Yahudi".

(Lihat: تحذير الساجد hlm. 182. Nasruddin al-Albani)

Rasulullah  صلّى الله عليه وسلّم bersabda:

قَالَ رسول الله صلّى الله عليه وسلّم : لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ اَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ يُحَذِّرُ مَا صَنَعُوْا.

 "Bersabda Rasulullah  صلّى الله عليه وسلّم : Allah melaknat Yahudi dan Nasrani yang telah menjadikan kubur-kubur Nabi mereka sebagai masjid-masjid. Dan telah diberi peringatan apa yang mereka lakukan."

(Hadis riwayat al-Bukhari dalam kitab Solat 1/532, dalam kitab Janaiz 3/200, 255, dalam Al-Maghazi 8/140, Al-Anbia 6/494, Al-Libas 10/277 dan 2/106. Muslim dalam kitab Al-Masajid 1/336 - 377 dan 2/67. Ahmad 1/218, 6/34, 80, 121, 255, 228 dan 275).

Menurut hukum lahir dari mahzab Hambali, bersolat di masjid yang ada kubur atau di masjid yang didirikan di perkuburan maka tidak sah (batal) solat tersebut (Ibid. hlm 185. Dan lihat: شرح المنتهى 1/303 ) dan wajib diulang semula.


[Lihat : Kitab Kuburi (Penyembah & Pemuja Kubur) Ustaz Rasul Bin Dahri]